SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM KELAS 3

Sub Capaian Pembelajaran
Setelah mengkaji kegiatan belajar ini, diharapkan mahasiswa dapat:
1. Menganalisis masuknya Islam di Indonesia.
2. Menganalisis strategi dakwah Islam walisongo.
3. Menganalisis perkembangan Islam di Indonesia.
4. Menganalisis pemikiran tokoh-tokoh Islam di Indonesia.
Pokok-Pokok Materi
1. Masuknya Islam di Indonesia.
2. Strategi dakwah Islam walisongo.
3. Perkembangan Islam di Indonesia.
4. Pemikiran tokoh-tokoh Islam di Indonesia.
By Hasan Fauzi
A. Masuknya Islam di Indonesia
Ada beberapa teori yang mengungkap sejarah masuknya Islam di Indonesia, yaitu: teori Gujarat (India), teori Arab/ Makkah, teori Persia, dan teori China.
1. Teori Gujarat (India)
Teori ini menyatakan Islam datang ke Indonesia bukan langsung dari Arab melainkan melalui India pada abad ke-13. Dalam teori ini disebut lima tempat asal Islam di India yaitu Gujarat, Cambay, Malabar, Coromandel, dan Bengal. Pijnappel, seorang Profesor Bahasa Melayu di Universitas Leiden, Belanda. Dia mengatakan bahwa Islam datang ke Indonesia bukan berasal dari Arab, tetapi berasal dari India, terutama dari pantai barat, yaitu daerah Gujarat dan Malabar. Sebelum Islam sampai ke Indonesia, banyak orang Arab bermazhab Syafi’i yang bermigrasi dan menetap di wilayah India. Dari sana, selanjutnya Islam menyebar ke Indonesia.
Teori tersebut kemudian direvisi oleh Cristian Snouck Hurgronje, menurutnya Islam yang tersebar di Indonesia berasal dari wilayah Malabar dan Coromandel, dua kota yang berada di India selatan, setelah Islam berpijak kuat di wilayah tersebut. Penduduk yang berasal Daccan bertindak sebagai perantara dagang antara negeri- negeri Islam dengan penduduk Indonesia. Selanjutnya, orang-orang dari Daccan dalam jumlah besar menetap di kota-kota pelabuhan di kepulauan Indonesia untuk menyemaikan benih-benih Islam tersebut. Baru setelah itu, datanglah orang-orang Arab yang melanjutkan Islamisasi di Indonesia. Orang-orang ini menemukan kesempatan baik untuk menunjukkan keahlian organisasinya sehingga mereka banyak yang bertindak selaku ulama, penguasa-penguasa agama dan sultan yang sering bertindak sebagai penegak pembentukan negeri-negeri baru.
Alasan Snouck Hurgronje bahwa Islam di Indonesia berasal dari Daccan adalah adanya kesamaan tentang paham Syafi’iyah yang kini masih berlaku di Pantai Coromandel. Demikian pula pengaruh Syiah yang masih meninggalkan sedikit jejaknya di Jawa dan Sumatera, yang dulunya mempunyai pengaruh kuat sebagaimana kini berlaku di India. Snouck Hurgronje juga menyebutkan bahwa abad ke 12 sebagai periode yang paling mungkin dari awal penyebaran Islam di Nusantara. Dapat disimpulkan bahwa Snouck Hurgronye, yang mendukung teori ini juga menyatakan tiga alasan, sebagai berikut: (1) Kurangnya bukti yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran agama Islam ke Indonesia, (2) Hubungan dagang antara Indonesia-India telah lama terjalin, dan (3) Inskripsi tertua tentang Islam yang terdapat di Sumatera memberikan gambaran hubungan dagang antara Sumatera dan Gujarat.
Teori Gujarat sebagai tempat asal Islam di Nusantara dipandang mempunyai kelemahan oleh Marisson. Alasannya, meskipun batu-batu nisan tersebut berasal dari Gujarat atau Bengal, bukan berarti Islam berasal dari sana. Dikatakannya, ketika Islamisasi Samudera Pasai yang raja pertamanya wafat 698 H/ 1297 M, Gujarat masih merupakan sebuah kerajaan bercorak Hindu. Baru pada satu tahun berikutnya, Cambay, Gujarat ditaklukkan oleh kekuasaan Muslim. Ini artinya, jika Islam di Indonesia disebarkan oleh orang-orang Gujarat pastilah Islam telah menjadi agama yang mapan sebelum tahun 698 H/ 1297 M. Atas dasar tersebut, Marisson menyimpulkan bahwa Islam di Indonesia bukan berasal dar Gujarat, tetapi dibawa para pendakwah muslim dari Pantai Coromandel pada akhir abad ke-13. Pandangan Marisson tersebut mendukung pendapat yang dipegang oleh Thomas W. Arnold, yang mengatakan bahwa Islam dibawa ke Nusantara antara lain berasal dari Coromandel dan Malabar. Teori ini didasarkan pada argumen adanya persamaan mazhab fiqih di kedua wilayah terebut. Mazhab Syafi’i yang mayoritas diikuti oleh mayoritas Muslim di Indonesia merupakan mazhab yang dominan di wilayah Coromandel dan Malabar. Menurut Arnold, para pedagang Muslim dari Coromandel dan Malabar mempunyai peranan penting dalam perdagangan antara India dan Nusantara. Kehadiran sejumlah besar padagang ini di pelabuhan-pelabuhan Indonesia tidak hanya berdagang, tetapi juga menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat.
2. Teori Arab/ Makkah
Teori Arab/ Makkah merupakan salah satu teori yang biasa dijelaskan dalam penulisan sejarah. Teori ini disebut juga dengan teori Timur Tengah yang dipelopori oleh beberapa sejarawan, di antaranya adalah Crawfurd, Keijzer, Naimann, de Hollander, dan juga ada beberapa sejarawan Indonesia seperti Hasjmi, Al-Attas, Buya Hamka, Hoesein Djajadiningrat, dan Mukti Ali. Penting diketahui, bahwa Coromandel dan Malabar, menurut Arnold bukanlah satu-satunya tempat Islam dibawa ke Nusantara. Islam di Indonesia juga dibawa oleh para pedagang dari Arab. Para pedagang Arab ini terlibat aktif dalam penyebaran Islam ketika mereka dominan dalam perdagangan Barat-Timur sejak awal abad ke-7 dan ke- 8 M. Asumsi ini didasarkan pada sumber-sumber China yang menyebutkan bahwa menjelang perempatan ketiga abad ke-7, seorang pedagang Arab menjadi pemimpin pemukiman Arab Muslim di pesisir barat Sumatera. Bahkan, beberapa orang Arab ini
telah melakukan perkawinan campur dengan penduduk pribumi yang kemudian membentuk inti sebuah komunitas Muslim yang para anggotanya telah memeluk agama Islam. Teori ini semula dikemukakan oleh Crawfurd yang mengatakan bahwa Islam dikenalkan pada masyarakat Indonesia langsung dari Tanah Arab, meskipun hubungan bangsa Melayu-Indonesia dengan umat Islam di pesisir Timur India juga merupakan faktor penting.
Berdasarkan teori Arab dari Buya Hamka yang tertulis dalam historiografi Indonesia, dijelaskan bahwa Islam masuk ke Indonesia sejak abad pertama Hijriah atau abad ke-7 Masehi yang mendasarkan teori pada berita China dari zaman Tang. Dalam catatan Tionghoa dijelaskan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M tepatnya di wilayah Sumatera dalam perkembangan perdagangan maritim Kerajaan Sriwijaya dengan dukungan dari mubaligh dan pedagang-pedagang muslim. Hamka memberikan argumentasi bahwa Gujarat hanya sebagai tempat singgah, sedangkan Makkah atau Mesir adalah sebagai tempat pengambilan ajaran Islam. Adapun masuknya Islam ke Indonesia melalui dua jalur, yaitu:
a. Jalur Utara, dengan rute: Arab (Makkah dan Madinah) à Damaskus à
Baghdad à Gujarat (pantai Barat India) à Sri Lanka à Indonesia.
b. Jalur Selatan, dengan rute: Arab (Makkah dan Madinah) à Yaman à Gujarat (pantai barat India) à Sri Lanka à Indonesia.
Hubungan antara timur tengah dengan nusantara terbagi ke dalam beberapa fase. Pada fase pertama, sejak akhir abad ke-8 sampai abad ke-12 hubungan Timur Tengah dengan Nusantara yaitu berkenaan dengan perdagangan. Kemudian fase berikutnya sampai akhir abad ke-15 hubungan antara keduanya terlihat lebih luas. Barulah sejak abad ke-16 sampai abad ke-17 hubungan Timur Tengah dengan Nusantara terjalin lebih bersifat politik di samping kegiatan keagamaan.
3. Teori Persia
Selain teori India dan teori Arab, teori yang lain tentang masuknya Islam ke Indonesia adalah teori Persia. Teori Persia ini menyatakan bahwa Islam yang datang ke Indonesia berasal dari Persia, bukan dari India dan Arab. Teori ini didasarkan pada beberapa unsur kebudayaan Persia, khususnya Syi’ah yang ada dalam kebudayaan Islam di Indonesia. Di antara pendukung teori ini adalah P.A. Hoesein Djajadiningrat. Ini merupakan alasan pertama dari teori ini. Berdasarkan analisis sosio-kultural, terdapat titik-titik kesamaan antara yang berlaku dan berkembang di kalangan masyarakat Islam Indonesia dengan di Persia. Misalnya, perayaan Tabut di beberapa tempat di Indonesia, dan berkembangnya ajaran Syekh Siti Jenar, ada kesamaan dengan ajaran Sufi al-Hallaj dari Iran Persia. Dia mendasarkan analisisnya pada pengaruh sufisme Persia terhadap beberapa ajaran mistik Islam (sufisme) Indonesia. Ajaran manunggaling kawula gusti Syeikh Siti Jenar merupakan pengaruh dari ajaran
wahdat al-wujud al-Hallaj dari Persia.
Alasan kedua, penggunaan istilah bahasa Persia dalam sistem mengeja huruf Arab, terutama untuk tanda-tanda bunyi harakat dalam pengajaran Al-Qur’an. Jabar (Arab-fathah) untuk menghasilkan bunyi “a” (Arab; kasrah) untuk menghasilkan bunyi “i” dan “e”; serta pees (Arab, dhammah) untuk menghasilkan bunyi “u” atau “o”. Dengan demikian, pada awal pelajaran membaca Al-Qur’an, para santri harus menghafal alifjabar “a”, alifjer “i” dan alif pees “u”/”o”. Cara pengajaran seperti ini,
pada masa sekarang masih dipraktikkan di beberapa pesantren dan lembaga pengajian Al-Qur’an di pedalaman Banten. Juga, huruf sin tanpa gigi merupakan pengaruh Persia yang membedakan dengan huruf sin dari Arab yang bergigi.
Alasan ketiga, peringatan Asyura atau 10 Muharram sebagai salah satu hari yang diperingati oleh kaum Syi’ah, yakni hari wafatnya Husain bin Abi Thalib di Padang Karbala. Di Jawa dan juga di Aceh, peringatan ini ditandai dengan pembuatan bubur Asyura. Di Minangkabau dan Aceh, bulan Muharram disebut dengan bulan Hasan-Husain. Di Sumatera Tengah sebelah barat, ada upacara Tabut, yaitu mengarak ‘keranda Husain’ untuk dilemparkan ke dalam sungai atau perairan lainnya. Keranda tersebut disebut dengan Tabut yang berasal dari bahasa Arab.
Hamka menolak teori ini dengan alasan, bahwa apabila Islam masuk abad ke- 7 M, yang ketika itu kekuasaan dipimpin Khalifah Umayyah (Arab), sedangkan Persia belum menduduki kepemimpinan dunia Islam. Selain itu, masuknya Islam dalam suatu wilayah, juga identik dengan langsung berdirinya sebuah kekuasaan politik Islam.
4. Teori China
Sebenarnya, peranan orang China terhadap Islamisasi di Indonesia perlu mendapat perhatian khusus. Banyaknya unsur kebudayaan China dalam beberapa unsur kebudayaan Islam di Indonesia perlu mempertimbangkan peran orang-orang China dalam Islamisasi di Indonesia, karenanya ”teori China” dalam Islamisasi tidak bisa diabaikan. H.J. de Graaf, misalnya, telah menyunting beberapa literature Jawa klasik yang memperlihatkan peranan orang-orang China dalam pengembangan Islam di Indonesia. Dalam tulisan-tulisan tersebut, disebutkan bahwa tokoh-tokoh besar semacam Sunan Ampel (Raden Rahmat/ Bong Swi Hoo) dan Raja Demak (Raden
Fatah/Jin Bun) merupakan orang-orang keturunan China. Pandangan ini juga
didukung oleh salah seorang sejarawan Indonesia, Slamet Mulyana. Denys Lombard juga telah memperlihatkan besarnya pengaruh China dalam berbagai aspek kehidupan bangsa Indonesia, seperti makanan, pakaian, bahasa, seni bangunan, dan sebagainya. Lombard mengulas semua ini dalam bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya yang terdiri dari tiga jilid.
Teori ini menjelaskan bahwa etnis China Muslim sangat berperan dalam proses penyebaran agama Islam di Indonesia. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada teori Arab, hubungan Arab Muslim dan China sudah terjadi pada Abad pertama Hijriah. Dengan demikian, Islam datang dari arah barat ke Indonesia dan ke China bersamaan dalam satu jalur perdagangan. Islam datang ke China di Canton (Guangzhou) pada masa pemerintahan Tai Tsung (627-650) dari Dinasti Tang, dan datang ke Nusantara di Sumatera pada masa kekuasaan Sriwijaya, dan datang ke pulau Jawa tahun 674 M berdasarkan kedatangan utusan raja Arab bernama Ta cheh/ Ta shi ke kerajaan Kalingga yang di perintah oleh Ratu Sima.
Agama Islam masuk ke Indonesia berjalan dengan cara damai tanpa paksaan. Pada umumnya agama Islam masuk ke Indonesia dilakukan melalui berbagai cara (jalur), di antaranya adalah:
1. Perdagangan
Jalur kegiatan pelayaran antar negara yang ramai membuat perdagangan semakin semarak dan meluas. Pada abad ke 7 M sampai abad ke16 M
merupakan tahap awal masuknya agama Islam di Indonesia melalui perdagangan ini. Ketika itu pedagang-pedagang muslim dari Timur Tengah dan India berminat pula berdagang ke Indonesia. Semakin lama semakin banyak, sehingga mereka membentuk sebuah pemukiman yang disebut Pekojan. Dengan bermukim itulah para pedagang berinteraksi dan berasimilasi dengan penduduk pribumi, sekaligus menyebarkan ajaran agama Islam kepada mereka.
2. Perkawinan
Para pedagang itu ada yang lama tinggal di Indonesia, bahkan ada yang menetap. Maka tidak heran jika para pedagang muslim yang datang ke Indonesia tersebut akhirnya banyak yang menikah dengan wanita-wanita pribumi (penduduk asli). Ketika akan dilangsungkan pernikahan, para wanita pribumi disuruh mengucapkan dua kalimah syahadat sebagai tanda telah menerima Islam sebagai agama dan keyakinannya. Melalui proses seperti itu, kelompok mereka semakin lama semakin banyak. Akhirnya berkembang dari kelompok kecil menjadi masyarakat besar yang kemudian berdiri Kerajaan Islam.
3. Pendidikan
Pendidikan juga berperan penting dalam penyebaran agama Islam. Pendidikan tersebut dilaksanakan di pesantren-pesantren yang diampu oleh para kyai. Apabila kyai yang mengajar di suatu pesantren mempunyai kharisma maka pesantren tersebut menjadi sangat berpengaruh di tengah-tengah masyarakat. Para kyai yang mengajar di pesantren-pesantren tersebut sering pula diangkat menjadi penasihat spiritual para raja dan bangsawan. Posisi tersebut memberi kesempatan luas para kyai untuk menyebarkan agama Islam.
4. Tasawwuf
Tasawwuf mengandung arti ajaran atau cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tasawwuf juga berperan penting dalam penyebaran agama Islam, karena dengan tasawwuf ini bagi orang yang telah memiliki dasar keTuhanan lebih mudah untuk memahami dan menerima ajaran Islam. Ketika itu ajaran tasawwuf banyak ditemukan dalam hikayat masyarakat setempat. Para tokoh penyebar tasawwuf di Indonesia yang terkenal diantaranya Syekh Abdul Shamad, Hamzah Fansuri, dan Nuruddin Ar-Raniri.
5. Kesenian
Penyebaran agama Islam juga dilakukan melalui kesenian. Peninggalan dari hasil penyebaran agama Islam melalui dunia seni ini banyak kita jumpai. Contoh peninggalan seni tersebut misalnya seni pahat, seni musik, seni sastra, dan juga bangunan-bangunan. Bangunan tempat beribadah para kyai zaman dahulu, misalnya masjid kuno di Demak, di Cirebon, di Aceh, dan di Banten merupakan sebagian dari peninggalan penyebaran agama Islam melalui seni.
6. Politik
Penyebaran agama Islam melalui politik ini dimaksudkan Ketika seorang raja memeluk agama Islam, maka rakyat akan patuh dan mengikutinya. Kondisi ini terjadi karena raja selalu menjadi panutan bagi rakyatnya.
B. Strategi Dakwah Islam Walisongo
Situasi masyarakat sebelum datangnya Islam terpengaruhi oleh sistem kasta dalam agama Hindu yang menjadikan perbedaan golongan kelas dalam kehidupan. Akibatnya, kehidupan masyarakat menjadi bertingkat dan berkelompok. Masyarakat Hindu ketika itu membagi kastanya menjadi empat (4) kasta yaitu: kasta brahmana, kasta ksatria, kasta waisya, dan kasta sudra. Sebagai kasta yang paling rendah, kasta sudra sering tertindas oleh kasta lainnya, sehingga kehidupannya selalu diliputi keresahan.
Datangnya Islam mengikis keadaan masyarakat yang berkasta, merubah kehidupan masyarakat menjadi lebih baik tanpa adanya penindasan atas perbedaan kasta. Perubahan ini tidak terlepas atas peran para wali. Penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-17 dikenal dengan istilah Walisongo. Era Walisongo menandai berakhirnya dominasi Hindu Budha dalam budaya di Indonesia dan dirubah menjadi kebudayaan Islam. Peranan mereka sangat besar dalam mendirikan kerajaan Islam dan penyebaran ajaran agama Islam di Jawa.
Penyebaran Islam terutama di Jawa banyak dilakukan oleh para wali. Wali dalam hal ini Wali Allah atau Waliyullah adalah orang suci yang mula-mula menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Jadi, wali adalah orang yang mengabdikan diri kepada Allah dengan menyerahkan upaya lahiriah dan rohaniah untuk kepentingan agama Islam dengan disertai kelebihan karomah, dimana orang biasa tidak mungkin melakukannya. Syekh Yusup bin Sulaiman berpendapat bahwa Wali ialah orang yang sangat dekat kepada Allah lantaran penuh ketaatannya dan oleh karena itu Allah memberikan kuasa kepadanya dengan Karomah dan penjagaan. Wali adalah orang yang terpelihara dari perbuatan dosa, baik dosa besar ataupun kecil, juga terhindar dari terjerumusnya hawa nafsu meskipun hanya sekejap dan apabila melakukan dosa maka segera bertaubat kepada Allah SWT. Wali-wali itu dianggap sebagai orang yang mula-mula menyiarkan agama Islam di Jawa dan biasa dinamakan Wali Sembilan atau Wali Songo. Wali Songo atau Wali Sanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-17. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat.
Ada beberapa pendapat mengenai arti Walisongo. Pertama adalah wali yang sembilan, yang menandakan jumlah wali yang ada sembilan, atau sanga dalam bahasa Jawa. Pendapat lain menyebutkan bahwa kata songo/ sanga berasal dari kata tsana yang dalam bahasa Arab berarti mulia. Pendapat lainnya lagi menyebut kata sana berasal dari bahasa Jawa, yang berarti tempat. Kedua mengatakan bahwa Walisongo ini adalah sebuah dewan yang didirikan oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel) pada tahun 1474. Saat itu dewan Walisongo beranggotakan Raden Hasan (Pangeran Bintara); Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang, putra pertama dari Sunan Ampel); Qasim (Sunan Drajad, putra kedua dari Sunan Ampel); Usman Haji (Pangeran Ngudung, ayah dari Sunan Kudus); Raden Ainul Yaqin (Sunan Giri, putra dari Maulana Ishaq); Syekh Suta Maharaja; Raden Hamzah (Pangeran Tumapel) dan Raden Mahmud.
Setiap individu Walisongo mempunyai peran dan kekhasan tersendiri dalam proses penyebaran agama Islam di Indonesia. Maulana Malik Ibrahim yang memposisikan dirinya sebagai "tabib" bagi kerajaan Hindu Majapahit, Sunan Giri yang disebut sebagai "Paus dari Timur" hingga Sunan Kalijaga dengan kekhasannya karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa, yaitu nuansa Hindu dan Budha.
Walisongo tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat "sembilan wali" ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Sekilas tentang sembilan nama yang dikenal sebagai anggota Walisongo, diantaranya adalah:
1. Maulana Malik Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy atau lebih dikenal dengan Sunan Gresik lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad
14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi. Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudera Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke- 10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad Saw.
Aktifitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya. Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah-kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.
2. Sunan Giri
Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah "giri". Maka ia dijuluki Sunan Giri.
3. Sunan Bonang
Maulana Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang terkenal dalam hal ilmu kebathinannya. Ia mengembangkan ilmu (dzikir) yang berasal dari Rasulullah SAW, kemudian beliau kombinasi dengan kesimbangan pernapasan yang disebut dengan
rahasia Alif Lam Mim ا ل م ) yang artinya hanya Allah SWT yang tahu. Sunan Bonang juga menciptakan gerakan-gerakan fisik atau jurus yang beliau ambil dari seni bentuk huruf Hijaiyyah yang berjumlah 28 huruf dimulai dari huruf Alif dan diakhiri huruf Ya'. Ia menciptakan Gerakan fisik dari nama dan simbol huruf hijayyah adalah dengan tujuan yang sangat mendalam dan penuh dengan makna, secara awam penulis artikan yaitu mengajak murid-muridnya untuk menghafal huruf-huruf hijaiyyah dan nantinya setelah mencapai tingkatnya diharuskan bisa baca dan memahami isi Al-Qur'an. Penekanan keilmuan yang diciptakan Sunan Bonang adalah mengajak murid-muridnya untuk melakukan Sujud atau Salat dan dzikir. Hingga sekarang ilmu yang diciptakan oleh Sunan Bonang masih dilestarikan di Indonesia oleh generasinya dan diorganisasikan dengan nama Padepokan Ilmu Sujud Tenaga dalam Silat Tauhid Indonesia.
4. Sunan Ampel
Raden Rahmat (Sunan Ampel) menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, kepada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah "Mo Limo" (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk "tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina."
5. Sunan Drajat
Syarifuddin (Sunan Drajat) mendapat tugas dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog-pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.
Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya, yakni langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah "berilah tongkat pada si buta, beri makan pada yang lapar, beri pakaian pada yang telanjang'.
Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin. Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.
6. Sunan Muria
Raden Umah Said (Sunan Muria) seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.
7. Sunan Gunung Djati
Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Djati) adalah satu-satunya "wali songo" yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Djati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.
8. Sunan Kudus
Ja’far Sadiq (Sunan Kudus) banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/ padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus. Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah. Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap.
Strategi yang dilakukan Sunan Kudus tampak unik dengan mengumpulkan masyarakat untuk melihat lembu yang dihias sedemikian rupa sehingga tampil bagai pengantin itu kemudian diikat di halaman masjid, sehingga masyarakat yang ketika itu masih memeluk agama Hindu datang berduyun-duyun menyaksikan lembu yang diperlakukan secara istimewa dan aneh itu. Sesudah mereka datang dan berkumpul di sekitar masjid, Sunan Kudus lalu menyampaikan dakwahnya. Cara ini praktis dan strategis untuk menarik minat masyarakat yang masih banyak menganut agama Hindu. Seperti diketahui, lembu merupakan binatang keramat Hindu. Sebagai contoh yang lain Sunan Kudus dan Sunan Ampel yang berkuasa di daerah-daerah di sekitar kediaman mereka, dengan demikian kekuatan diplomasi dan kemampuan dalam berhujjah atas kekuatan pemerintahan Majapahit.
9. Sunan Kalijaga
Raden Mas Syahid (Sunan Kalijaga) ajarannya terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, layang kalimasada, lakon wayang Petruk jadi Raja. Taman pusat kota berupa Keraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga. Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede-Yogyakarta). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu, selatan Demak.
Strategi dakwah yang digunakan Walisongo adalah penerapan strategi yang dikembangkan para sufi Sunni dalam menanamkan ajaran Islam melalui keteladanan yang baik. Jejak yang ditinggalkan Walisongo itu terlihat dalam kumpulan nasihat agama yang termuat dalam tulisan-tulisan para murid dan ahli waris Wali Songo. Baik berupa buku sejarah, nasab, silsilah, suluk, babad, manaqib dan lain-lain yang
menggambarkan hakikat aliran tasawuf dan dakwah yang mereka anut dan dikembangkan. Strategi dakwah yang dilakukan para wali berbeda-beda, sebagai contoh adalah Sunan Kalijaga menggunakan strategi berdakwah dengan mengajak Pembesar Hindu di Semarang. Mulanya terjadi perdebatan seru, tetapi perdebatan itu kemudian berakhir dengan rasa tunduk Sang bangsawan itu untuk masuk Islam. Kejadian mengharukan ketika bangsawan itu rela melepaskan jabatan dan rela meninggalkan harta dan keluarga untuk bergabung dalam dakwah Sunan Kalijaga.
Dalam hal esensi yang disampaikan dalam cerita-ceritanya tentunya disisipkan unsur-unsur moral ke-Islaman. Dalam lakon Bima Suci misalnya, Bima sebagai tokoh sentralnya diceritakan menyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Esa itulah yang menciptakan dunia dan segala isinya. Tak berhenti di situ, dengan keyakinannya itu Bima mengajarkannya kepada saudaranya, Janaka. Lakon ini juga berisi ajaran- ajaran tentang menuntut ilmu, bersikap sabar, berlaku adil, dan bertata krama dengan sesama manusia.
Dalam sejarahnya, para Wali berperan besar dalam pengembangan pewayangan di Indonesia. Sunan Kalijaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. Bahkan para wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. Pertama Wayang Kulit di Jawa Timur, kedua Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah, dan ketiga Wayang Golek di Jawa Barat. Masing masing sangat berkaitan satu sama lain yaitu “Mana yang Isi (Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) dan mana yang harus dicari (Wayang Golek)”.
Di samping menggunakan wayang sebagai media dakwahnya, para wali juga melakukan dakwahnya melalui berbagai bentuk akulturasi budaya lainnya contohnya melalui penciptaan tembang-tembang keislaman berbahasa Jawa, gamelan, dan lakon Islami. Setelah penduduk tertarik, mereka diajak membaca syahadat, diajari wudhu’, shalat, dan sebagainya. Sunan Kalijaga adalah salah satu Walisongo yang tekenal dengan minatnya dalam berdakwah melalui budaya dan kesenian lokal. Dalam hal ini menyebarluaskan Islam melalui bahasa-bahasa simbol, media, dan budaya merupakan salah satu bentuk perjuangan yang cukup efektif.
C. Perkembangan Islam di Indonesia
1. Perkembangan Islam Sebelum Kemerdakaan
Sampai akhir abad ke-19 Belanda telah kaya dengan pengalaman pahit dalam menghadapi kekuatan Islam di Indonesia. Sejak kedatangannya pada akhir abad ke-
16 di Indonesia, Belanda senantiasa menghadapi kenyataan bahwa Islam selalu menjadi penghalang cita-citanya. Hal ini tidak mengherankan, sebab sebagian besar penduduk daerah yang dijajahnya di kepulauan Indonesia ini beragama Islam, motif aneka perlawanan terhadapnya, bagaimanapun jarang terlepas dari kaitan ajaran agama ini. Sejarah telah membuktikan selama abad ke-19 saja, Kolonial Belanda cukup sibuk menghadapi pemberontakan-pemberontakan yang kebanyakan dilancarkan sebagai “perang sabil” atas nama Islam. Tercatat pemberontakan- pemberontakan yang terkenal pada abad ini antara lain, Perang Paderi (1821-1837) di Sumatera Barat, Perang Diponegoro (1825-1830) di Jawa Tengah dan yang terlama adalah Perang Aceh dari tahun 1871-1912.
Pemberontakan-pemberontakan tersebut cukup membahayakan dan sempat mengancam kelangsungan hidup penjajahan Belanda di Indonesia, di samping tidak kecil kerugian-kerugian yang diderita Belanda karenanya. Maka dari itu wajarlah apabila Belanda yang menginginkan kelestarian penjajahannya berusaha sekuat tenaga menjinakkan dan sekaligus melumpuhkan Islam sebagai kekuatan politik di Indonesia yang dapat membahayakan penjajahannya di negara Indonesia. Sejalan dengan usahanya untuk menguasai medan jajahan itulah, Islam dipelajari secara ilmiah di negeri Belanda. Hal ini terbukti dengan diselenggarakannya pendidikan “Indologie” untuk mengenal lebih jauh seluk-beluk pribumi Indonesia. Melalui usaha tersebut diharapkan bisa dihasilkan pegawai-pegawai yang cakap dalam mengurus dan mengendalikan administrasi pemerintah jajahannya di Indonesia. Kebijaksanaan Kolonial Belanda dalam menangani masalah Islam ini, sering disebut dengan istilah “Islam Politiek”, yakni kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda dalam mengelola masalah-masalah Islam di Indonesia. Untuk ini Christian Snouck Hurgronje dipandang sebagai peletak dasarnya.
Sebelum kedatangan Snouck di Indonesia, kebijaksanaan-kebijaksanaan Kolonial Belanda terhadap Islam di Indonesia tidaklah memiliki arah yang jelas. Hal ini disebabkan miskinnya pengetahuan Kolonial Belanda tentang Islam dan Indonesia, atau mungkin “buta” sama sekali. Pada masa itu kebijaksanaan Kolonial Belanda terhadap Islam di Indonesia, secara tradisional dibentuk oleh kombinasi yang kontradiktif antara ketakutan dan pengharapan yang berlebihan.
Di satu pihak pemerintah Kolonial Belanda sangat takut terhadap muslim fanatik yang mempunyai hubungan dengan dunia internasional, termasuk bahaya permintaan bantuan kepada negara Islam di luar negeri. Rezim Belanda di Indonesia sangat takut terhadap sesuatu yang berbau Pan Islamisme. Islam dibayangkannya sebagai sebuah agama yang diorganisir secara rapi; di dalam banyak hal dianggap serupa dengan agama Katholik Roma yang memiliki susunan kebiaraan hirarchis yang bersekutu dengan Sultan Turki. Akibatnya, Islam di mata penjajah Belanda nampak sebagai musuh yang menakutkan, maka tidak mengherankan apabila pemerintah Kolonial Belanda pada waktu itu bertindak sangat membatasi ruang gerak umat Islam di Indonesia; terutama dalam hal pergi haji ke Makkah yang dianggapnya sebagai biang keladi yang menimbulkan agitasi dan pemberontakan di Indonesia.
Di lain pihak, Kolonial Belanda terlalu besar harapannya untuk menghilangkan pengaruh Islam secara cepat melalui proses Kristenisasi, sebab dalam anggapannya agama Kristen lebih unggul dari agama Islam; di samping banyaknya orang Islam Indonesia yang bersifat sinkretis, dianggapnya akan mudah untuk di- Kristen-kan, maka pemerintah Kolonial Belanda pun berupaya untuk menyukseskan kerja para Missionaris Kristen di Indonesia dengan jalan memberi subsidi dan kemudahan-kemudahan beroperasi. Karena seperti diketahui, pemerintah Belanda pada waktu itu sedang berada dalam tekanan partai-partai agama di parlemen. Mereka menuntut supaya Hindia Belanda dibuka untuk kegiatan misi baik Roma Katholik maupun Protestan untuk sama-sama beroperasi di Indonesia.
Ternyata kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dibentuk oleh kombinasi yang kontradiktif tersebut, tidak membawa hasil yang menggembirakan bagi Kolonial Belanda. Tindakan pembatasannya terhadap ruang gerak umat Islam, tidak membawa hasil yang produktif. Meskipun pemberontakan-pemberontakan besar di bawah panji Islam dapat dihentikan, akan tetapi frekuensi pemberontakan petani di bawah komando pemimpin Islam setempat meningkat. Walaupun missionaris- missionaris Kristen mendapat dukungan dana dan kemudahan dari pemerintah, agama Kristen hanya mampu meluaskan dirinya secara lambat, itupun hanyalah di kalangan orang-orang Indonesia yang tinggal di daerah-daerah yang belum tersentuh agama Islam.
2. Perkembangan Islam Setelah Kemerdakaan
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) merupakan perwakilan daerah seluruh kepulauan Indonesia. Dalam sidang PPKI, M. Hatta berhasil meyakinkan bahwa tujuh kata dalam anak kalimat yang tercantum dalam sila pertama Pancasila “Ketuhanan yang maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dengan segala konsekuensinya dihapuskan dari konstitusi. Namun hal yang sedikit melegahkan hati para nasionalis Islam adalah keputusan tentang diadakannya Kementerian Agama yang akan menangani masalah keagamaan, meskipun Departemen Agama dibentuk, namun hal tersebut tidak meredakan konflik ideologi pada masa setelahnya. Setelah dikeluarkannya maklumat tentang diperkenankannya mendirikan partai partai politik, tiga kekuatan yang sebelumnya bertikai muncul kembali, yaitu; Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) 7 November 1945 lahir sebagai wadah aspirasi umat Islam, Partai Sosialis yang mengkristalkan falsafah hidup Marxis berdiri 17 Desember 1945, dan Partai Nasional Indonesia yang mewadahi cara hidup nasionalis “sekuler” muncul pada 29 Januari 1946. Partai-partai yang berdiri pada saat itu dapat dikategorikan dalam tiga aliran utama ideologi yang ada tersebut.
Sejak tahun 1950 sampai 1955 PNI dan Masyumi terlibat perselisihan mengenai peran Islam dan peran komunis. Tetapi kalangan muslim sendiri saling berseberangan. Misalnya pada tahun 1952 Nahdatul Ulama (NU) menarik diri dari Masyumi dan menjadi partai politik yang mandiri. Terjadi pula perselisihan antara kaum tua dan kaum muda dan antara Muhammadiyah dan NU mengenai orientasi keagamaan. Pergolakan yang tidak terselesaikan antara beberapa partai politik yang mengantarkan sebuah pemilihan nasional (pemilu) tahun 1955 yang terbukti sebagai sebuah peristiwa yang menentukan dalam sejarah Indonesia. Pemilihan umum tahun 1955 tersebut mengkonsolidasikan bentuk baru ideologi Indonesia dan organisasi sosial, bahkan mengembangkan sebuah kelanjutan dari masa lalu yang nyata Indonesia. Sejak masa itu sampai sekarang, beberapa partai muslim telah berjuang untuk menyadari bahwa meskipun Indonesia secara mayoritas dalam adalah sebuah masyarakat muslim, namun partai muslim merupakan sebuah mirioritas politik.
Perdebatan mengenai hasil perundangan terakhir Piagam Jakarta terus berlanjut hingga periode pasca kemerdekaan dan menjadi argumen bagi gerakan- gerakan separatis, seperti Darul Islam di Jawa Barat dari 1948 hingga 1962 dan juga di Sulawesi Selatan dan Aceh. Dalam Majelis Konstituante, sejak berakhirnya pemilu
1955 yang dilaksanakan berdasarkan UUDS 1950, kalangan islamis melahirkan tantangan lain bagi negara model Pancasila ini. Karena tidak ada satu pihak pun yang memenuhi 2/3 suara yang dibutuhkan untuk pengesahan, Soekarno akhirnya membubarkan Majelis Konstituante dengan mengeluarkan Dekrit Presiden pada 5 Mei 1959.
Perkembangan Islam pada masa orde lama, (masa berlakunya UUD 1945, Konstitusi RIS 1949 dan UUDS 1950) berada pada tingkat pengaktualisasian ajaran agama untuk dijadikan sebuah dasar dalam bernegara. Sehingga pergolakan ideologi antara golongan muslim dan golongan nasionalis saling tarik ulur untuk memperjuangkan berlakunya rumusan ideologi masing-masing. Sedangkan pada masa demokrasi terpimpin (1959 - 1966) golongan Islam mendapat tekanan melalui dominasi peranan golongan komunis yang membonceng kepada pemerintah.
Perkembangan Islam setelah kemerdekaan pada masa orde baru Inilah era dimana kepemimpinan Soeharto sangat kuat dan militeristik. Seperti lazimnya kepemimpinan gaya itu, masyarakat sipil dimandulkan suara dan perannya. Tiga tulisan tentang Pan-Islamisme di Hindia-Belanda Timur pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, parpol-parpol menjadi tiga partai besar yaitu PPP, Golkar dan PDI pada tahun 1970-an. Bahkan Secara konvensional kelompok tertentu wajib memberikan suaranya ke golongan karya yang berafiliasi dengan pemerintah. Dengan kewajiban ini, tak pelak dalam empat kali pemilu, perolehan suaraya terbanyak dan terus memimpin.
Sementara itu suara-suara yang ingin menegakkan Syari’at Islam atau Islam sebagai dasar negara nyaris tidak terdengar. Boleh jadi karena intervensi negara yang terlalu kuat terhadap gerak-gerik warganya termasuk ormas membuat semuanya menjadi diam dan tiarap, seolah ada kesimpulan bahwa berbeda dengan mainstrem negara adalah berbahaya. Bukan itu saja, tahun 1980-an bahkan pemerintah mulai menerapkan mono-loyalitas mengharuskan seluruh organisasi, kepemudaan sampai kemasyarakatan berasaskan Pancasila, sebagai satu-satunya asas atau sering disebut asas tunggal. Dengan peraturan baru itu setiap perserikatan yang tidak berasaskan Pancasila dianggap bertentangan dengan negara dan harus siap dibubarkan.
Dalam perkembangannnya untuk semua itu pemerintah menghadiahi umat Islam atau mengakomodir kepentingan umat Islam dalam berbagai bentuknya, misalnya dalam bentuk akomodasi struktural, diberlakukannya Undang-undang Perkawinan tahun 1974, Undang-undang Peradilan Agama tahun 1989, Kompilasi Hukum Islam tahun 1991, diubahnya peraturan tentang seragam sekolah dalam hal ini penggunaan tentang jilbab tahun 1991, keputusan bersama di tingkat menteri tentang amil zakat, infak dan sedekah juga tahun 1991, dan lain-lain.
Sejalan dengan itu, kelahiran ICMI pada tahun 1990-an, juga bisa dianggap sebagai bibit munculnya kembali cita-cita Islam yang mewarnai kehidupan bernegara. Meski kita tidak bisa menyuarakan bahwa mereka menyuarakan tegaknya Syari’at Islam, nanum ICMI yang dimotori oleh intelektual beragama Islam, Dr. Ir. B.J. Habibie, waktu itu menjabat menristek sebagai lampu hijau kebangunan Islam yang selama ini seolah-olah terlelap dan tercengkeram. Fenomena lainnya adalah persetujuan pemerintah terhadap lahirnya Bank Muamalah, Bank yang mendasarkan pada sistem Syari’ah dan menghindari sistem konvensional yang menyerempet riba,
selain itu pula masuknya sejumlah tokoh mereka ke senayan, oleh Hefner, seorang antropolog dan indosianis dibahasakan dengan greening atau penghijauan senayan, hijau selalu berkonotasi dengan Islam.
Perkembangan Islam pada masa reformasi dalam soal harmoni politik, munculnya berbagai kebijakan yang berbau masa lalu setidaknya menjadi bukti yang cukup bahwa kebijakan tersebut sejalan dengan paradigma keberlanjutan. RUU KUB yang dikhawatirkan banyak pihak akan membuat kemunduran yang berarti, ternyata gagal disahkan. Namun, munculnya Peraturan Bersama Menteri Agama nomor 9 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2006 yang merevisi Keppres nomor 1 tahun 1979, tampaknya sudah menjadi masa lalu di tengah reformasi. Pada awal reformasi, perubahannya cukup menggembirakan, terutama pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid (1999-2001). Gus Dur melakukan gerakan yang signifikan untuk mencabut Keppres No. 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat China melalui Keppres No. 6 Tahun 2000 tanggal 17 Januari 2000. Sejak saat itu, budaya Tionghoa berkembang pesat, termasuk kegiatan keagamaan. Pada masa pemerintahan Gus Dur, K.H. Tolhah Hasan menjabat sebagai Menteri Agama, setelah ada usulan agar pemerintah (dalam hal ini Kementerian Agama) mengesahkan Deklarasi PBB tentang penghapusan berbagai bentuk intoleransi atau disharmoni dan diskriminasi berdasarkan agama atau kepercayaan (disetujui 25 Nopember 1981). Ini adalah inisiatif yang dikembangkan dari Kementerian Agama untuk menjamin prinsip bahwa tidak seorangpun boleh menjadi sasaran diskriminasi oleh negara, lembaga, sekelompok orang, atau orang atas dasar agama atau kepercayaan lain.
D. Pemikiran Tokoh-tokoh Islam di Indonesia
Sejarah perkembangan Islam sejalan dengan pembaharuan konsep pendidikan Islam. Perkembangan ini tidak terlepas dari peran berbagai tokoh yang memberikan sumbangan pemikiran. Berikut ini profil singkat beberapa tokoh-tokoh Islam di Indonesia, antara lain:
1. Hasyim Asyari
KH. Muhammad Hasyim Asy’ari adalah pendiri pesantren Tebu Ireng, tokoh ulama pendiri organisasi NU. Ia lahir di Gedang desa Tambakrejo 2 km ke arah utara kota Jombang Jawa Timur, pada hari Selasa kliwon, 24 Dzulqaidah 1287 H bertepatan dengan 14 Februari 1871 M. Putra ketiga dari 11 bersaudara pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah. Kiai Asy’ari adalah menantu Kiai Utsman, pengasuh pesantren Gedang. Dari jalur ayah, nasab kiai Hasyim bersambung kepada Maulana Ishak hingga Imam Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir. Sedangkan, dari jalur ibu nasabnya bersambung kepada Raja Brawijaya VI (Lembu Peteng), yang berputra Karebet atau Jaka Tingkir. Jaka Tingkir adalah raja Pajang pertama (1568 M) dengan gelar Sultan Pajang atau pangeran Adiwijaya.
KH. Hasyim Asy’ari mendapatkan pendidikan langsung dari ayahnya sendiri. Terutama pendidikan keagamaan. Ia mula-mula belajar ilmu tauhid, fiqh, tafsir dan bahasa arab. Karena kecerdasannya, maka dalam usia 13 tahun, Hasyim sudah menguasai materi pelajaran yang diajarkan oleh guru dan ayahnya serta mulai membantu ayahnya mengajar para santri senior.
Rasa dahaga akan ilmu pengetahuan, membuat Hasyim menjadi seorang pengelana ilmu. Ia melanjutkan pendidikannya di berbagai pondok pesantren khususnya di pulau Jawa seperti pesantren Wonokoyo, Siwalan Buduran, Trenggilis, Langitan, Bangkalan, Demangan dan Sidoarjo. Selama di pondok pesantren Sidoarjo, kiai Ya’kub selaku pimpinan pondok merasa sangat tertarik dengan kecerdasan Hasyim dan berfirasat bahwa ia kelak akan menjadi pemimpin besar dan sangat berpengaruh. Karena itulah ia menjodohkan Hasyim Asy’ari dengan putrinya, Nafisah. Pada tahun 1892, tepatnya berusia 21 tahun KH. Hasyim Asy’ari menikah dengan Nafisah putri kiai Ya’kub. Pasca menikah, KH. Hasyim bersama istri dan mertuanya bermukim di Makkah. Ketika tepatnya tujuh bulan menetap di sana, istrinya melahirkan seorang anak laki-laki dan diberi nama Abdullah. Akan tetapi, beberapa hari setelah melahirkan, istri yang dicintainya meninggal dunia, disusul putranya selang kurang empat puluh hari. Sungguhpun ia mendapatkan cobaan bertubi-tubi, hal ini tidak mematahkan semangatnya dalam menuntut ilmu.
Selanjutnya KH. Hasyim Asy’ari berguru kepada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabawi, seorang hartawan yang mempunyai hubungan baik dengan penguasa Makkah, serta berguru kepada Syeikh al-Allamah Abdul Hamid al- Darustani dan Syaikh Muhammad Syuaib al-Maghribi. Dan masih banyak lagi lainnya. Di antara ilmu agama yang dipelajari oleh KH. Hasyim Asy’ari selama di Makkah antara lain, fiqh dengan konsentrasi mazhab Syafi’i, tauhid, tafsir, ulumul hadits, tasawuf, dan ilmu alat (nahwu, sharaf, mantiq, balaghah, dan lain-lain).
Karya-karya kiai Hasyim banyak merupakan jawaban atas berbagai problematika kehidupan masyarakat. Beliau merupakan penulis yang produktif di samping aktif mengajar, berdakwah dan berjuang. Adapun karya-karya kiai Hasyim Asy’ari diantaranya:
a. Al-Tibyan fi al-Nahy ‘an Muqatha’ah al-Arham wa al Aqarib wa al-Ikhwan. Berisi
tentang tata cara menjalin silaturrahim. Bahaya dan pentingnya interaksi sosial.
b. Mukaddimah al-Qanun al-Asasy Li Jamu’iyyah Nahdatul Ulama. Pembukaan
undang-undang dasar (landasan pokok) organisasi Nahdatul Ulama. Berisikan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan Nahdatul Ulama’ dan dasar-dasar pembentukannya disertai dengan hadis dan fatwa-fatwa Kiai Hasyim tentang berbagai persoalan.
c. Risalah fi Ta’kid al-Akhdz bi Madzhab al-A’immah al Arba’ah. Risalah untuk
memperkuat pegangan atas madzhab empat. Berisikan tentang perlunya berpegang kepada salah satu diantara empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali). Di dalamnya juga terdapat uraian tentang metodologi penggalian hukum (istinbath al-ahkam), metode ijtihad, serta respon atas pendapat Ibn Hazm tentang taqlid.
d. Mawaidz. Beberapa nasihat, berisikan fatwa dan peringatan tentang merajalelanya kekufuran, mengajak merujuk kembali kepada Al-Qur’an dan hadis, dan lain sebagainya.
e. Arbain Haditsan Tata’allaq bi Mabadi’ Jami’Iyah Nahdhatul Ulama’. 40 hadis yang
terkait dengan dasar-dasar pembentukan Nahdatul Ulama’.
f. Al-Nural-Mubin fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin. Cahaya yang jelas menerangkan cinta kepada pemimpin para rasul. Berisi dasar kewajiban seorang muslim untuk beriman, menaati, meneladani, dan mencintai Nabi Muhammad Saw.
g. Al-Tanbihat al-Wajibat liman Yashna’ al-Maulid bi al Munkarat. Peringatan-
peringatan wajib bagi penyelenggara kegiatan maulid yang dicampuri dengan kemunkaran.
h. Risalah Ahli Sunnah Wal-Jama’ah fi Hadits al-Mauta wa Syarat as-Sa’ah wa Bayan Mafhum al-Sunnah wa al-Bid’ah. Risalah Ahl Sunnah Wal-Jama’ah berisikan
tentang hadis-hadis yang menjelaskan kematian, tanda-tanda hari kiamat, serta menjelaskan sunnah dan bid’ah.
i. Ziyadat Ta’liqat a’la Mandzumah as-Syekh ‘Abdullah bin Yasin al-Fasuruani.
Catatan seputar nadzam Syeikh Abdullah bin Yasin Pasuruan. Berisi polemik antara Kiai Hasyim dan Syeikh Abdullah bin Yasin, didalamnya terdapat fatwa-fatwa Kiai Hasyim yang berbahasa Jawa.
Situasi pendidikan pada masa KH. Hasyim Asy’ari mengalami perubahan dan perkembangan pesat dari kebiasaan lama (tradisional) ke dalam bentuk pendidikan yang semakin modern, hal ini dipengaruhi oleh sistem pendidikan imperialis Belanda yang semakin kuat di Indonesia. Signifikansi pendidikan menurut KH. Hasyim Asy’ari adalah upaya memanusiakan manusia secara utuh, sehingga manusia bisa takwa kepada Allah Swt, dengan benar-benar mengamalkan segala perintah-Nya mampu menegakan keadilan di muka bumi, beramal saleh dan maslahat, pantas menyandang predikat sebagai makhluk yang paling mulia dan lebih tinggi derajatnya dari segala jenis makhluk Allah lainnya. KH. Hasyim Asy’ari berpendapat fitrah manusia dan lingkungan sama-sama saling mempengaruhi dalam membentuk kepribadian seseorang. Hal ini dinilai bahwa pendidikan banyak memberikan andil dalam rangka memperbaiki, menyempurnakan dan mendidik moral manusia. Oleh karenanya, kiai memberikan perhatian khusus dalam mendidik akhlak melalui pendidikan budi pekerti.
Ada tiga dimensi yang hendak dicapai dalam konsep pendidikan KH. Hasyim Asy’ari, diantaranya dimensi keilmuan, pengamalan dan religius. Dimensi keilmuan, berarti peserta didik diarahkan untuk selalu mengembangkan keilmuannya, tidak saja keilmuan agama melainkan pengetahuan umum. Peserta didik dituntut bersikap kritis dan peka terhadap lingkungan. Dimensi pengamalan peserta didik bisa mengaktualisasikan keilmuannya untuk kebaikan bersama dan bertanggung jawab terhadap anugerah keilmuan dari Allah. Adapun dimensi religius, adalah hubungan antara Tuhannya tidak sekedar ritual keagamaan melainkan menyandarkan segalanya untuk mencari Ridha Allah. Sehingga, bila dicermati bahwa tujuan pendidikan menurut KH. Hasyim Asy’ari adalah menjadi insan purna yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Insan purna yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karenanya belajar harus diniatkan untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai Islam, bukan hanya sekedar menghilangkan kebodohan.
2. Ahmad Dahlan
Ahmad Dahlan lahir pada tanggal 1 Agustus 1868 di desa Kauman, kota Yogyakarta dan meninggal 23 Februari tahun 1923. Kauman merupakan tempat kelahiran dan tempat Ahmad Dahlan dibesarkan adalah sebuah kampung yang terkenal di Yogyakarta, karena letaknya yang berdekatan dengan Masjid Agung Kesultanan Keraton. Selain letaknya yang strategis dekat dengan masjid, kampung ini juga terkenal dengan nuansa keagamaan yang konservatif. Kampung ini sangat berpengaruh besar dalam perjalanan hidup Ahmad Dahlan di kemudian hari. Sebagian besar penduduk Kauman dipenuhi oleh orang-orang Islam dengan mata pencaharian sebagai pedagang.
Di masa kecil nama Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis. Ia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara, yakni adalah Nyai Khatib Arum, Nyai Muhsinah, Nyai Haji Soleh, Muhammad Darwis, Nyai Abdurrahman, Nyai Haji Muhammad Faqih dan Muhammd Basir. Darwis dilahirkan dari keluarga yang terpandang dan taat beragama dan terkenal di lingkungan kesultanan Yogyakarta. Ayahnya bernama K.H Abu Bakar bin Sulaiman dan ibunya adalah putri Haji Ismail. Ayahnya adalah seorang ulama dan khatib terkenal di masjid besar kesultanan di Yogyakarta, sedangkan ibunya adalah anak dari seorang penghulu besar kesultanan di Yogyakarta.
Muhammad Darwis pada masa kecilnya terkenal sebagai seorang anak yang pintar, rajin, jujur dan suka menolong. Ia sangat kreatif dalam membuat barang- barang kerajinan tangan dan permainan, sehingga masyarakat Kauman menamakan dirinya seorang anak yang ulet, pandai dengan kelebihannya yang bisa memanfaatkan sesuatu. Ia berkarya bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi kesenangannya dibagi-bagikan kepada teman-temannya dan saudara-saudaranya. Sejak masa kanak-kanak, jiwa sosial telah bersemi pada diri Muhammad Darwis. Kelebihan dan jiwa sosial itulah yang menjadikan Muhammad Darwis sering tampil sebagai pemimpin bagi teman-temannya.
Selain belajar pesantren yang dipimpin oleh ayahnya di kampung Kauman, Muhammad Darwis juga dikirim oleh ayahnya untuk belajar di luar Yogyakarta. Karena itu, Muhammad Darwis belajar ilmu fiqih (hukum Islam) dari Kiai Haji Muhammad Shaleh, ilmu nahwu (sintaksis bahasa Arab) dari Kiai Haji Muksin, ilmu falak (astronomi) dan geografi dari Kiai Raden Haji Dahlan, qira’ah (seni membaca Al-Qur'an) dari syaikh Amin dan Syaid Bakri dan ilmu hadis (nilai-nilai dari ketradisian Nabi Muhammad Saw) dari Kiai Mahfudh dan syaikh Khayyat. Walaupun Muhammad Darwis mempelajari berbagai bidang ilmu, akan tetapi ia sangat tertarik sekali pada ilmu falaq dan mendalami ilmu itu.
Ketika berumur 15 tahun, Darwis memutuskan untuk menunaikan ibadah haji dan belajar ilmu-ilmu agama. Biaya perjalanan dan keperluan Muhammad Darwis ke tanah suci ditanggung oleh kakak iparnya yaitu kiai Haji Soleh. Darwis bermukim di Makkah selama lima tahun. Pada tahun 1888, Darwis memutuskan untuk kembali ke Kauman dan bertemu dengan gurunya, Sayyid Bakri Syatha. Pada saat itu sang guru memberikan nama baru untuk Muhammad Darwis yakni Ahmad Dahlan, yang diambil dari nama seorang ulama yang terkenal Mazhab Syafi'i di Makkah, yaitu Ahmad bin Zaini Dahlan.
Pada tahun 1896, ayah Ahmad Dahlan meninggal dunia. Semasa hidup sang ayah menjabat sebagai khatib di masjid kesultanan Yogyakarta. Sepeninggalnya, posisi khatib dilanjutkan oleh Ahmad Dahlan. Hal itu karena Ahmad Dahlan pernah mendalami ilmu agama dan meneruskan pelajarannya di Mekkah, maka Ahmad Dahlan diangkat untuk menggantikan kedudukan ayahnya sebagai khatib di masjid kesultanan Yogyakarta oleh Sultan Hamengkubuwono VII. Diantara tugasnya adalah melaksanakan khutbah Jum'at secara bergantian dengan delapan orang teman khatib lainnya, piket di serambi masjid dengan enam orang temannya dalam waktu seminggu sekali, dan menjadi anggota dewan agama Islam hukum keratin.
Ahmad Dahlan adalah seorang tokoh pendidikan yang tidak meninggalkan karya berupa tulisan. Ahmad Dahlan bukanlah seorang penulis sebagaimana pemikir lainnya. Gagasan-gagasan pemikirannya ia sampaikan secara lisan dan karya nyata. Untuk itu ia lebih dikenal sebagai pelaku dibanding pemikir. Atau kita kenal dengan sebutan “Man of Action”. Amal usahanya yang begitu banyak diantaranya dalam bidang pendidikan, kesehatan, dakwah dan panti sosial.
Ahmad Dahlan meninggal pada tanggal 23 Februari 1923 di Kauman Yogyakarta, sesudah menderita sakit beberapa waktu lamanya. Hingga akhir hayatnya, semangat serta dinamikanya dalam membangun umat sangat berapi-api, sehingga ia melupakan kesehatannya sendiri. Jasanya yang besar di berbagai bidang diakui oleh pemerintah ketika Presiden Soekarno dalam Surat Keputusan No. 675 tahun 1961, tanggal 27 Desember, menetapkan Ahmad Dahlan sebagai Pahlawan Nasional.
Menurut Ahmad Dahlan, tujuan pendidikan Islam diarahkan pada usaha untuk membentuk manusia yang beriman, berakhlak, memahami ajaran agama Islam, memiliki pengetahuan yang luas dan kapasitas intelektual yang dapat diperlukan di dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mencapai tujuan tersebut, Ahmad Dahlan berpendapat bahwa pendidikan Islam harus disertai dengan integrasi ilmu dan amal, integrasi ilmu pengetahuan umum maupun agama, kebebasan berpikir dan pembentukan karakter, agar peserta didik dapat berkembang secara intelektualitas dan spritualitas. Sepatutnya mengajarkan peserta didik untuk selalu beragama, mendekatkan diri kepada Allah dan melakukan tindakan yang sesuai dengan yang dianjurkan agama. Serta senantiasa berani mengorbankan hartanya untuk Allah dan tidak sekedar pada tataran pengetahuan saja, tetapi dibarengi dengan praktik keagamaan, yakni beramal.
Sejauh ini pendidikan agama hanya dianggap relevan untuk menanamkan karakter yang baik terhadap peserta didik, karena pada hakikatnya karakter terbentuk dari tindakan yang dilakukan secara rutin dan terus-menerus. Perlu disadari bahwa ilmu dan beramal merupakan suatu kesatuan. Artinya, peserta didik tidak hanya duduk di kelas dan diam memperhatikan gurunya, tetapi dengan ilmu yang dimilikinya harus dipraktikkan di dalam kehidupan sehari-hari. Praktik merupakan aplikasi ilmu pengetahuan yang dimiliki dengan menghasilkan karya (berkarya). Di dalam ajaran Islam, pemeluknya wajib mencari ilmu setinggi mungkin dan dengan ilmu yang dicapainya agar diamalkan dalam bentuk karya nyata. Konsep inilah yang diberikan oleh Ahmad Dahlan di dalam pendidikan Muhammadiyah.
3. Haji Abdul Malik Amrullah
Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) lahir di sungai Batang, Maninjau (Sumatera Barat) pada hari Minggu, tanggal 16 Februari 1908 M/13 Muharram 1326 H dari kalangan keluarga yang taat beragama. Ayahnya bernama Haji Abdul Karim Amrullah atau dikenal dengan sebutan Haji Rasul bin Syeikh Muhammad Amrullah (gelar Tuanku Kisai) bin Tuanku Abdul Saleh. Haji Rasul merupakan salah seorang ulama yang pernah mendalami agama di Mekkah, pelopor kebangkitan Kaum Mudo, dan tokoh Muhammadiyah di Minangkabau. Sementara ibunya bernama Siti Shafiyah binti Haji Zakakaria (w. 1934). Dari genelogis ini dapat diketahui, bahwa ia berasal dari keturunan yang taat beragama dan memiliki hubungan dengan generasi pembaharu Islam di Minangkabau pada akhir abad XVIII dan awal abad XIX. Ia lahir dalam struktur masyarakat Minangkabau yang menganut sistem matrilinear. Oleh karena itu, dalam silsilah Minangkabau ia berasal dari suku Tanjung, sebagaimana suku ibunya. Pada tahun 1929 Hamka menikah dengan Siti Raham binti Endah Sutan dan dikaruniai 12 orang anak, 2 diantaranya meninggal dunia. Hamka dikenal sebagai salah satu tokoh organisasi Islam modern Muhammadiyah. Bahkan Hamka bisa disebut sebagai tokoh utama berdirinya organisasi itu di wilayah Sumatera Barat. Sejak kecil Hamka menerima dasar-dasar agama dan membaca Al-Qur'an langsung dari ayahnya. Ketika usia 6 tahun, ia dibawa ayahnya ke Padangpanjang. Pada usia 7 tahun, ia kemudian dimasukkan ke sekolah desa dan mengenyam pendidikan di sana selama 3 tahun lamanya. Ia juga memiliki hobi menonton film yang kemudian banyak memberinya inspirasi untuk mengarang. Pendidikan formal yang dilaluinya adalah mulai tahun 1916 sampai 1923, ia belajar agama pada lembaga pendidikan Diniyah School di Padangpanjang, serta Sumatera Thawalib di Padangpanjang dan di Parabek. Walaupun pernah duduk di kelas VII, akan tetapi ia tidak memiliki ijazah. Di antara guru-guru dan teman seperjuangan Hamka antara lain; Haji Rasul (ayahnya), Syeikh Ibrahim Musa, R.M. Surjopranoto, A.R. Sutan Mansur (dewan penasehat Muhammdiyah 1962-1980), H. Fachroedin (wakil ketua
P.B. Muhammadiyah), KH. Mas Mansur, H.O.S. Cokroaminoto (yang mengajarinya tentang peradaban Barat), A. Hasan, M. Natsir, KH. Ahmad Dahlan (pendiri organisasi Muhammadiyah), KH. Ibrahim, KH. Mukhtar Bukhari, dan KH. Abdul Mu'thi.
Lebih dari seratus buku telah dikarangnya yang meliputi: sejarah, filsafat, novel dan masalah-masalah Islam. Selain itu ia juga dipandang sebagai pengajar tasawuf modern di Indonesia. Berikut adalah beberapa karya-karya Hamka, antara lain:
a. Kenang-Kenangan Hidup, Jilid I, II, III, IV, Cet. 4. Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
b. Ayahku; Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangannya. Jakarta: Pustaka Widjaja, 1958.
c. Falsafah Hidoep. Djakarta: Poestaka Pandji Masyarakat, 1950.
d. Lembaga Hidup, Jakarta: Djajajmurni, 1962.
e. Lembaga Budi, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.
f. Tasawuf Modern, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.
g. Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi. Jakarta: Tekad, 1963.
Pandangan Hamka tentang pendidikan adalah bahwa pendidikan sebagai sarana yang dapat menunjang dan menimbulkan serta menjadi dasar bagi kemajuan dan kejayaan hidup manusia dalam berbagai keilmuan. Melalui pendidikan, eksistensi fitrah manusia dapat dikembangkan sehingga tercapai tujuan budi. Hamka menilai bahwa proses pengajaran tidak akan berarti bila tidak dibarengi dengan proses pendidikan, begitu juga sebaliknya. Tujuan pendidikan akan tercapai melalui proses pengajaran. Dengan terjalinnya kedua proses ini, manusia akan memperoleh kemuliaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Pendidikan menurut Hamka bukan hanya soal materi, karena yang demikian tidaklah membawa pada kepuasaan batin. Pendidikan harus didasarkan kepada kepercayaan, bahwa di atas dari kuasa manusia ada lagi kekuasaan Maha Besar, yaitu Tuhan. Sebab pendidikan modern tidak bisa meninggalkan agama begitu saja. Kecerdasan otak tidaklah menjamin keselamatan kalau nilai rohani keagamaan tidak dijadikan dasarnya.
Hamka berpandangan bahwa manusia melalui akalnya dapat menciptakan peradaban yang lebih baik. Potensi akal yang demikian dipengaruhi oleh kebebasan berpikir dinamis, sehingga akan sampai pada perubahan dan kemajuan pendidikan. Dalam hal ini, potensi akal adalah sebagai alat untuk mencapai terbentuknya kesempurnaan jiwa. Dengan demikian, orintasi pendidikan Hamka tidak hanya mencakup pada pengembangan intelektualitas berpikir tetapi pembentukan akhlaq al- karimah dan akal budi peserta didik. Dan melalui pendidikan manusia mampu menciptakan peradaban dan mengenal eksistensi dirinya.
Tujuan yang hendak dicapai dalam proses pendidikan, tidak terlepas dari ilmu, amal dan akhlak, serta keadilan. Menurut Hamka ilmu yang dimiliki seseorang memberi pengaruh keimanan sebab ilmu tanpa didasari iman, maka akan rusak hidupnya dan membahayakan orang lain, oleh karena itu manusia semakin berilmu semakin bertambah ketakwaannya kepada Allah. Dalam pandangan Hamka, tujuan pendidikan adalah mengenal dan mencari keridhaan Allah, membangun budi pekerti yang luhur agar terciptanya akhlak mulia serta mempersiapkan peserta didik dalam pengembangan kehidupan secara layak dan berguna di tengah lingkungan sosialnya.
4. Nurcholis Madjid
Nurchoilsh Madjid dilahirkan tepat pada tanggal 17 Maret 1939 M (26 Muharram 1358 H) di sudut kampung kecil Desa Mojoanyar, Jombang, Jawa Timur. Ayahnya KH. Abdul Madjid, dikenal sebagai kyai terpandang, alumnus Pesantren Tebuireng dan merupakan salah seorang pemimpin Masyumi, partai berideologi Islam paling berpengaruh pada saat itu. Lebih jauh, KH. Abdul Madjid merupakan
santri kesayangan Hadrotul al-Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng dan salah satu founding father Nahdlatul Ulama (NU), organisasi sosial
keagamaan muslim terbesar di Indonesia. Cak Nur wafat pada tanggal 29 Agustus 2005. Sebelumnya Cak Nur menjalani operasi lever di Cina dan dilanjutkan ke Rumah Sakit Singapura, sampai ia kembali menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Pondok Indah hingga akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhirnya.
Latar belakang pendidikan dimulai dari Sekolah Rakyat di Mojoanyar pada pagi hari, sedangkan sore hari ia sekolah di Madrasah Ibtidaiyah di Mojoanyar. Setelah menamatkan pendidikan dasar dan ibtidaiyah, ia melanjutkan belajar ke
Pesantren Darul Ulum di Rejoso, Jombang. Setelah itu ia melanjutkan pendidikannya di Kulliyatul Mua’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pesantren Darussalam di Gontor Ponorogo. Setamat dari gontor, ia melanjutkan studi pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, pada Fakultas Adab, Jurusan Sastra Arab dan tamat tahun 1968.
Semenjak menjadi mahasiswa, Nurcholish Madjid seorang mahasiswa yang aktif dalam gerakan kemahasiswaan dan ia secara langsung maupun tidak langsung mampu menunjukkan kemampuan akademisnya itu pada dirinya, keluarganya, juga teman-teman seperjuangannya. Beberapa gerakan kemahasiswaan yang ia geluti adalah HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) cabang Ciputat, sampai akhirnya ia terpilih menjadi ketua umum PB HMI, ia juga aktif di Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara (PEMIAT), kiprahnya di persatuan ini sampai ia selesai kuliahnya (1968). Keaktifannya dalam sebuah organisasi terus ia geluti, karena baginya sebuah organisasi merupakan medium pencerdasan generasi penerus perjuangan bangsa Indonesia, dan selain itu juga baginya peran sebuah organisasi adalah sebagai wadah untuk pengembangan diri dan sarang latihan menjadi seorang pemimpin.
Nurcholish Madjid mengakhiri studi doktornya (Ph.D) di Universitas Chicago, Illinois, Amerika Serikat pada tahun 1984 dengan disertasi tentang Filsafat dan Kalam Ibnu Taymiyyah (‘Ibn Taymiyya on Kalam and Falsafah: A Problem of Reason and Revelation in Islam) predikat Summa Cum Laude pun diraihnya. Selain ia banyak berkecimpung di organisasi dan memangku berbagai jabatan, Nurcholis Madjid juga sebagai seorang penulis yang produktif. Di antara karya tulisnya antara lain:
1) Khasanah Intelektual Islam, (Jakarta, Bulan Bintang, 1984).
2) Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, (Bandung, Mizan, 1987).
3) Islam Doktrin dan peradaban, Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemodernan, (Jakarta, Yayasan Wakaf Paramadina, 1992).
4) Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, (Karya bersama para pakar Indonesia lainnya), (Jakarta, Yayasan Wakaf Paramadina, 1995).
5) Pintu-pintu Menuju Tuhan, (Jakarta, Yayasan Wakaf Paramadina, 1997).
6) Masyarakat Religius, (Jakarta, Yayasan Wakaf Paramadina, 1995).
7) Kaki Langit Peradaban Islam, (Jakarta, Yayasan Wakaf Paramadina, 1997).
8) Tradisi Islam Peran dan fungsinya dalam pembangunan di Indonesia, (Jakarta, Yayasan Wakaf Paramadina, 1997).
9) Dialog Keterbukaan Artikulasi Nilai Islam dalam Wacana Sosial Politik Kontemporer, (Jakarta, Yayasan Wakaf Paramadina, 1998).
Nurcholish Madjid sebagai tokoh pembaharu dan cendikiawan muslim Indonesia sudah tidak lagi berada di tengah-tengah kita dan kepergiannya merupakan suatu kehilangan besar bagi bangsa Indonesia khususnya dan umumnya bagi anak bangsa dari berbagai Agama, berbagai suku, merasa kehilangan Cak Nur dalam arti yang sebenarnya, demikian sehabatnya Amin Rais mengungkapkan, Pemikiran-pemikiran Madjid terasa masih menggema di kalangan akademisi maupun kalangan ilmuwan, karena banyak dari pemikirannya masih tetap dan terus diperbincangkan, dikritisi dan diaktualisasikan dalam kehidupan selanjutnya, entah itu dalam kancah perpolitikan maupun sosial keagamaan. Beliau juga seorang intelektual Muslim garda depan, dan juga seorang guru bangsa yang mampu
mengemas Islam dalam denyut humanisme serta humanitas, sehingga benih-benih pemikirannya banyak dijadikan solusi oleh sebagian masyarakat Indonesia atas masalah-masalah kemanusiaan maupun keagamaan.
5. Abdurrahman Wahid
Kyai Haji Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur, lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Guru bangsa, reformis, cendekiawan, pemikir, dan pemimpin politik ini menggantikan BJ. Habibie sebagai Presiden RI setelah dipilih MPR hasil Pemilu 1999. Ia menjabat Presiden RI dari 20 Oktober 1999 hingga Sidang Istimewa MPR 2001. Ia lahir dengan nama Abdurrahman ad-Dakhil atau “Sang Penakluk”.
“Gus” adalah panggilan kehormatan khas pesantren kepada anak kiai. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara, dari keluarga yang sangat terhormat dalam komunitas muslim Jawa Timur. Kakek dari ayahnya, KH. Hasyim Asyari, adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), demikian pula kakek dari pihak ibu, KH Bisri Syamsuri. Ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim, terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama pada 1949. Ibunya, Hj. Sholehah, adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap berada di sana selama perang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Pada 1957, setelah lulus SMP, ia pindah ke Magelang untuk belajar di Pesantren Tegalrejo. Ia mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun yang seharusnya ditempuh selama empat tahun. Pada 1959, Gus Dur pindah ke Pesantren Tambakberas Jombang dan mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai guru dan kepala madrasah. Gus Dur juga menjadi wartawan Horizon dan Majalah Budaya Jaya.
Pada 1963, Gus Dur menerima beasiswa dari Departemen Agama untuk belajar di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir, namun ia tidak menyelesaikannya karena kekritisan pikirannya. Gus Dur kemudian melanjutkan belajar di Universitas Baghdad, Irak dan menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1970. Kemudian ia pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya, guna belajar di Universitas Leiden, tetapi ia kecewa karena pendidikannya di Baghdad kurang diakui (tidak mu’adalah) di Belanda. Gus Dur lalu melanjutkan pendidikan ke Jerman dan Perancis sebelum kembali ke Indonesia pada tahun 1971. Sekembalinya ke Indonesia Gus Dur bergabung di Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asy'ari, dan menjadi dekan hingga tahun 1974. Pada tahun 1970-an, ia menekuni dunia tulis menulis dan menjadi kolumnis tetap di majalah Tempo, Kompas, Pelita, dan Jurnal Prisma. Sebelum menjabat ketua PBNU 1984, Gusdur menjabat ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Tahun 1989 dan 1994 berturut-turut terpilih sebagai Ketua Umum PBNU hingga menjadi Presiden RI pada bulan Oktober 1999.
Pada tahun 1982 NU membetuk Tim Tujuh (termasuk Gus Dur) untuk mengerjakan isu reformasi dan membantu menghidupkan kembali NU. Pada 1983, Soeharto dipilih kembali sebagai presiden untuk masa jabatan keempat oleh MPR dan mulai mengambil langkah menjadikan Pancasila sebagai ideologi tunggal. Dari Juni 1983 hingga Oktober 1983, Gus Dur menjadi bagian dari kelompok yang ditugaskan
untuk menyiapkan respon NU terhadap isu ini. Gus Dur lalu menyimpulkan NU harus menerima Pancasila sebagai Ideologi Negara. Untuk lebih menghidupkan kembali NU, dia mengundurkan diri dari PPP dan partai politik agar NU fokus pada masalah sosial. Pada Musyawarah Nasional NU 1984, Gus Dur dinominasikan sebagai Ketua Umum PBNU dan dia menerimanya dengan syarat mendapat wewenang penuh untuk memilih pengurus yang akan bekerja di bawahnya. Selama masa jabatan pertamanya, Gus Dur fokus mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas sistem pendidikan pesantren sehingga menandingi sekolah umum.
Gus Dur terpilih kembali untuk masa jabatan kedua Ketua Umum PBNU pada Musyawarah Nasional 1989. Saat itu, Soeharto, yang terlibat dalam persinggungan politik dengan ABRI, berusaha menarik simpati Muslim termasuk juga kepada NU. Pada Juli 1998 Gus Dur menanggapi ide pembentukan partai politik sebagai wadah warga NU menyampaikan aspirasi politiknya. Partai tersebut diberi nama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pada tanggal 7 Februari 1999, PKB resmi menyatakan Gus Dur sebagai kandidat presidennya. Pemilu April 1999, PKB meraih suara 12% suara dengan PDIP memenangkan 33% suara. Pada 20 Oktober 1999, Sidang Umum MPR memilih presiden baru. Meskipun suara PDIP yang terbesar, namun karena suasana politik yang berkembang saat itu, mengantarkan Gus Dur terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4.
Pada 11 Agustus 2006, Gus Dur mendapatkan Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006. Gus Dur dinilai memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekpresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di Indonesia. Gus Dur memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles karena ia dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas. Dia juga memperoleh penghargaan dari Universitas Temple dan namanya diabadikan sebagai nama kelompok studi Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study.
Comments
Post a Comment